Senin, 25 April 2016

merekatkan ragam budaya lewat karnaval


● Harlah Ke-93 Diikuti Ribuan Nahdliyin

JALANAN protokol di kawasan kota di Kabupaten Jepara sebagian ditutup lantaran digunakan belasan ribu orang yang pawai budaya dalam rangka Harlah ke-93 Nahdlatul Ulama (NU), Minggu (24/4) siang. Jalan utama pusat kota, yaitu Jl Kartini, Jl Pemuda dan Jl Brigjen Katamso ditutup.

Pawai itu juga diikuti ormas lain, seperti Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jepara dan perwakilan dari Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ) Jepara. Sejak pukul 12.00, alun-alun Jepara dalan jalan sekitarnya sudah penuh peserta dari berbagai penjuru Jepara.

Peserta datang dari berbagai lembaga, badan otonom NU tingkat kabupaten, kecamatan hingga desa dan kelurahan internal NU. Karnawal Budaya Nusantara khas Jepara itu juga diikuti perwakilan lembaga pendidikan di bawah naungan NU, seluruh ormas, hingga komunitas lintas agama.

Perwakilan TNI dan Polres Jepara juga turut dalam pawai tersebut. Dari Polres misalnya, iring-iringan anggota pawainya gegap gempita meneriakkan yel-yel antinarkoba.

Mereka mengusung misi khusus untuk sosialisasi antinarkoba kepada generasi muda dan masyarakat secara umum. Semua lini masyarakat itu diundang sebagai peserta lantaran peringatan kali ini mengambil tema NU untuk Jepara.

“NU ingin merangkul semua elemen masyarakat untuk bersama- sama membangun Jepara. Lewat karnaval ini, masyarakat yang turut pawai memiliki pesanpesan tersendiri. Terlebih mereka sudah menyiapkan ini sejak dua bulan terakhir,” kata Ketua Tanfidziyah PCNU Jepara, KH Hayatun Abdullah Hadziq.

Karnaval budaya dibuka Bupati Jepara Ahmad Marzuqi, Rais Syuriah PCNU Jepara KH Ubaidillah Nur Umar, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Kementerian Pariwisata Nusantara Dadang Rizki Ratman. Hadir juga anggota DPR RI Noor Achmad dan Dandim 0719 Jepara Kolonel Inf Ahmad Basuki.

Total terdapat 160 kelompok peserta. Masing-masing kelompok terdiri hingga 100 orang. Bahkan, khusus perwakilan dari majelis wakil cabang NU Kecamatan Nalumsari mengirimkan 600-an peserta. Di antara pertunjukkan yang ditampilkan yakni parade bendera NU sebanyak 93 yang dibawa oleh pasukan Banser yang menunjukkan umur NU.

Banyak Perhatian

Aksi Banser ini mendapatkan banyak perhatian di sepanjang jalan karena kekompakan geraknya. Sebagian lagi juga memeragakan tari-tarian dengan mengenakan batik khas Jepara, mengusung karya legendaris patung macan kurung, juga seni ukir.

Sebagian besar, terutama dari kalangan NU mengusung Islam Kebangsaan yakni Islam Nusantara. Pesanpesan kedamaian dan kekompakan sesame elemen bangsa membanjiri suasana pawai.

Ada juga warga negara Spanyol, Johan yang turut dalam pawai tersebut. Johan mengenakan sarung dan kemeja hijau putih seragam NU. Berkalungkan kamera, dia memotret para penonton. Replika tokoh-tokoh pahlawan juga banyak disung peserta.

Sementara itu dari GITJ, membawa dua mobil bertuliskan ‘’NU untuk Jepara bersama GITJ Jepara; Ngupaya Kerukunan, Paseduluran lan Kamanunggalan’’. Mereka menggunakan simbol perahu dengan penjaga dan putri persatuan, sebagai simbol perjalanan hidup bersama.

Pendeta Danang Kristiawan dari GITJ, yang memimping rombongannya di pawai tersebut mengatakan, keikutsertaan GITJ dalam pawai Harlah NU adalah partisipasi untuk merayakan kebersamaan dalam perbedaan demi kehidupan bersama yang rukun dan damai. ‘’Kami ikut bergembira dalam karnaval ini, dan selamat kepada NU yang merayakan hari lahir,’’ kata Danang.

Hingga menjelang petang, peserta pawai masih memenuhi jalan dan beriringan. Ada doorprize tiga sepeda motor, 10 sepeda gunung serta set meja kursi untuk para peserta. Ketua panitia Harlah ke-93 NU Hisyam Zamroni mengatakan, pawai budaya nusantara itu menutup rangkaian kegiatan harlah yang berlangsung selama hampir dua bulan.

Ada puluhan jenis kegiatan, baik yang berkaitan dengan kompetensi pelajar di berbagai bidang, terkait pendidikan dan lomba pengelolaan teknologi informasi, sampai pada lomba-lomba yang menjadi tradisi khas pesantren.

Kegiatan bakti sosial juga dilakukan secara maraton di berbagai tempat, seperti pelayanan keluarga berencana, juga pembagian sembako. ‘’Kegiatan harlah juga serempat dilakukan di Nu tingkat kecamatan dan ranting di desa/ kelurahan,’’ kata Hisyam. (Muhammadun Sanomae-64) 
 
 
SUMBER : SUARA MERDEKA CETAK ( 25-4-2016)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar